Dalam ilmu falsafah jawa kuno, manusia tidak lepas dari empat duplikasi yang menyertainya. Duplikasi yang dimaksut yaitu saudara tak kasat mata. saudara saudara tersebut ada sejak manusia lahir (jabang bayi) hingga mati.

Dijelaslam dalam konsep mandala bahwa duplikasi tersebut adalah 4 nafsu. Orang jawa biasa menyebut Kiblat Papat Limo Pancer ada juga yang menyebutnya Sedulur Papat Limo Pancer.  Jika ditulis bilangan maka menjadi 4+1 (empat plus satu). Kenapa harus 4+1, bukan 5 ? karena dalam ilmu mandala telah dijelaskan 4 sebagai kiblat dan yang 1 adalah diri kita sendiri. Yang dimaksut kiblat adalah penggambaran tentang hidup manusia yang penuh dengan nafsu.

Dalam konsep mandala, digambarkan dalam 4 mata angin dengan makna yang berbeda, antara lain :

  1. Arah utara digambarkan oleh gambar bumi, dilambangkan dengan warna hitam yang mempunyai sifat nafsu aluamah yaitu manusia mempunyai sifat yang serakah.
  2. Arah timur digambarkan oleh gambar air, dilambangkan dengan warna putih yang mempunyai sifat mutmainnah yang artinya adalah ketentraman hidup. Yaitu manusia mempunyai sifat atau nafsu baik.
  3. Arah selatan digambarkan dengan Api, dilambangkan dengan warna merah yang mempunyai sifat nafsu amarah. Yaitu manusia mempunyai sifat amarah atau pemarah.
  4. Arah barat digambarkan dengan Angin, dengan lambang warna kuning yang mempunyai nafsu sufiyah yaitu manusia mempunyai nafsu untuk menginginkan atau mendapatkan apa yang dia inginkan.

Manusia harus bisa mengendalikan 4 nafsu diatas. Apabila kita bisa mengendalikan 4 nafsu diatas, maka kita bisa mendapatkan nur cahaya/cahaya ilahi atau kebahagiaan. Jika kita sudah bisa mengendalikan  4 nafsu tersebut maka bisa dikembangkan lagi menjadi 8+1 (delapan plus satu) maka pengendalian diri kita semakin tajam. Ketika manusia kita dapat mengendalikan nafsu nafsu tersebut, maka kita akan mendapat kesempurnaan untuk kehidupan selanjutnya. Pepatah jawa mengatakan “Urip Kuwi Mung Mampir Ngombe” yang berarti hidup itu cuma numpang minum, yang bermakna hidup itu cuma sebentar dan ada kehidupan yang kekal di akhirat.

Pemanfaatan Konsep Mandala 4 dalam Perfilaman

Perfilman merupakan kombinasi antara audio dan visual yang digunakan untuk menyampaikan pesan ataupun hanya sebatas hiburan. Dalam perfilman dibutuhkan persiapan yang matang dengan banyak crew. Dalam proses perfilam banyak sekali konflik yang akan dihadapi, seperti miss komunikasi, cuaca yang tidak mendukung, ada crew yang tidak hadir, alat ada yang trouble dan masih banyak lagi yang lainnya. Dengan demikian, baik crew maupun penanggung jawab dalam proses permbuatan film kita wajib menguasai konsep mandala.Dengan kita menguasai konsep mandala secara singkat kita dapat menguasai diri kita sendiri dan akan memungkinkan untuk meredakan emosi dan nafsu crew yang bekerja saat terdapat kendala dalam proses produksi film.

Link Tugas : http://ranang.dosen.isi-ska.ac.id/2021/05/03/konsep-mandala-dalam-budaya-jawa/