JUDUL DAN RUMUSAN MASALAH PKM

JUDUL DAN RUMUSAN MASALAH PKM

  1. Topik Pilihan : Alternatif ke 1
    a. Nama Seni Budaya : Kuda Lumping/ebeg
    b. Lokasi                     : Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah
    c. Deskripsi singkat     : Merupakan salah satu kesenian tradisional Jawa yang menggambarkan   sekelompok prajurit penunggang kuda. Kuda yang di gunakan dalam tarian ini bukanlah kuda sungguhan, namun kuda yang terbuat dari bambu yang di anyam dan dibentuk dan dihias menyerupai kuda. Jenis Kesenian ini sangatlah merakyat di Masyarakat Kabupaten Kebumen . Puluhan kelompok grup kesenian kuda lumping telah terbentuk. Jumlah grup ada 95. Jumlah Grup Kesenian Kuda lumping merupakan yang terbanyak di Kabupaten Kebumen.
    d. Bidang (skim) PKM yang dipilih : PKM-GT

2. 5 judul dan satu rumusan masalah
a. Judul
    1. Konsep teater kuda lumping di Kabupaten Kebumen sebagai solusi
        mengangkat potensi wisata budaya.
    2. “The concept of sharing via the internet” konsep menyebarluaskan Kuda Lumping
        di Desa Kalitengah melalui internet.
    3. Tampil dan Rekam (Solusi pengarsipan Kuda Lumping di Desa Kalitengah)
    4. Pengembangan Media Pembelajaran teater kuda lumping siswa SD sederajat di
        Desa Kalitengah.
    5. “TWO WEEKS SHOW” solusi melestarikan seni budaya Kuda Lumping di
        Kabupaten Kebumen.

     b.  Rumusan Masalah Bagaimana cara pengembangan teater kuda lumping di Kabupaten Kebumen agar
        Potensi wisata budayanya tetap terlestarikan?

TIGA ALTERNATIF PONTENSI SENI BUDAYA YANG BISA DIJADIKAN OBJEK UNTUK PENULISAN PROPOSAL BIDANG PKM-KC atau PKM-GT

Alternatif 1

  1. Nama Seni Budaya : Kuda Lumping
  2. Deskripsi singkat Kuda Lumping : Merupakan salah satu kesenian tradisional Jawa yang menggambarkan sekelompok prajurit penunggang kuda. Kuda yang di gunakan dalam tarian ini bukanlah kuda sungguhan, namun kuda yang terbuat dari bambu yang di anyam dan dibentuk dan dihias menyerupai kuda. Jenis Kesenian ini sangatlah merakyat di Masyarakat Kabupaten Kebumen . Puluhan kelompok grup kesenian kuda lumping telah terbentuk. Jumlah grup ada 95. Jumlah Grup Kesenian Kuda lumping merupakan yang terbanyak di Kabupaten Kebumen.
  3. Bidang yang dipilih : PKM-GT

Alternatif 2

  1. Nama Seni Budaya : Wayang Kulit
  2. Deskripsi singkat Wayang Kulit : Seni pertunjukan tradisional wayang kulit identik dengan budaya Jawa. Wayang kulit memang berkembang luas di wilayah Jawa. Kata wayang sendiri diketahui berasal dari ‘Ma Hyang’ yang berarti menuju kepada roh spiritual, para dewa, atau sang kuasa. Untuk di Kebumen Kesenian Wayang Kulit adalah kesenian yang menduduki rangking ke 2 jumlahnya dari keseluruhan kesenian yang ada di Kabupaten Kebumen. Dalang-dalangnya juga sudah terkenal di luar Kabupaten Kebumen. Terdapat 80 grub di Kebumen.
  3. Bidang yang dipilih : PKM-KC

Alternatif 3

  1. Nama Seni Budaya : Tari Lawet
  2. Deskripsi singkat Tari Lawet : Tari Lawet merupakan tarian asli dari Kabupaten Kebumen yang identik dengan tugu lawet nya. Diciptakan pada tahun 1995 oleh seniman Kebumen. Menceritakan tentang aktifitas burung lawet dalam mencari makan sampai kembali ke sarangnya. Diperagakan minimal 2 orang penari perempuan. Durasi 10 menit. Tari Lawet biasanya Dilaksanakan pada saat ada kegiatan untuk memeriahkan suatu acara/ resepsi.
  3. Bidang yang dipilih : PKM-GT

Konsep Mandala dalam Kebudayaan Jawa

1.

Dalam konsep mandala dijelaskan bahwa manusia mempunyai empat nafsu. Dalam bahasa jawa ada istilah papat limo pancer atau konsep mandala dalam bilangan empat plus satu. Dalam hal ini, empat sebagai penggambaran tentang kehidupan manusia yang penuh dengan nafsu dan plus satu adalah mikrokosmos, maka terjadilah hubungan antara mikrokosmos, metakosmos, dan makrokosmos, dimana yang artinya adalah hubungan antara diri sendiri dengan alam semesta dan lingkungannya, dan hubungan antara diri sendiri dengan Tuhan yang maha Esa.

Dalam konsep mandala ada pembagian arah mata angin dalam dunia ini, dalam lingkaran mandala itu :

  1. Utara, digambarkan oleh Bumi, warna Hitam, Bersifat Aluamah yang berarti mempunyai sifat nafsu serakah, yang digambarkan oleh orang jawa adalah arah utara
  2. Timur, melambangkan Air, berwarna Putih, Bersifat Mutmainah yang berarti adalah ketentraman hidup, manusia juga mempunyai nafsu baik
  3. Selatan, digambarkan Api, warna Merah, Bersifat amarah artinya manusia juga mempunyai sifat nafsu amarah
  4. Barat, menggambarkan Angin, warna Kuning, Bersifat Supiyah, Bersifat keinginan dan mendatangkan rindu atau nafsu birahi.

Sebagai manusia, sudah seharusnya kita mengendalikan keempat nafsu dalam lingkaran mandala tersebut agar mendapatkan cahaya ilahi atau cahaya kemuliaan. Dari  konsep mandala empat plus satu ini dikembangkan lagi menjadi konsep mandala delapan plus satu, diarah selatan ada Dewa Bumi yang menggambarkan tanah berwarna hitam, Arah timur ada Dewa Indra atau Dewa Langit, Arah utara ada Dewa Kuara atau Dewa Bintang, Arah Barat ada Dewa Baruna atau Dewa Air, Arah Barat Laut ada Dewa Anila atau Dewa Angin, Arah Timur laut ada Dewa Candra atau Dewa Rembulan, Arah Tenggara ada Dewa Agni atau Dewa Api, Arah Barat Daya ada Dewa Surya/Matahari. Dari dewa-dewa disitu adalah menjadi lambang tentang nafsu kita. Ketika kita mampu mengendalikan keempat nafsu diatas, kita juga harus mampu mengendalikan kedelapan nafsu tersebut untuk mendapatkan cahaya terang. Oleh karena itu orang Jawa sadar mengenai hidup itu hanya sebentar atau orang jawa sering menyebut urip kui mung mampir ngombe maka kita harus betul-betul bias mengendalikan diri kita dari empat dan delapan nafsu tersebut untuk mendapat bekal di alam akhirat nanti.

2.

Menurut saya, dari paparan tersebut sangat menarik ketika kita membuat suatu ide yang dilandaskan berdasarkan nafsu dalam lingkaran Mandala. Dimana kita memanfaatkan hal tersebut untuk menggambarkan suatu karakter  atau aktor berdasarkan nafsu dalam lingkaran mandala tersebut. Mungkin dijadikans sebagai ide film fiksi dimana kita mengumpulkan contoh delapan aktor dengan latar belakang sifat yang berbeda dan juga nafsu yang berbeda, dengan hal tersebut nanti akan disatukan dalam nafsu dalam lingkaran mandala, sehingga dapat menghasilkan suatu makna yang positif terhadap penonton. Tidak hanya dalam ide saja, tetapi dalam kehidupan nyata ketika kita bersama crew dalam suatu project film juga harus memperhatikan nafsu dalam lingkaran mandala tersebut, agar suatu pertengkaran antara crew menjadi terkendali, karena dari diri kita masing-masing sebagai crew sudah berusaha untuk mengendalikan empat dan delapan nafsu tersebut.

KESENIAN EBEG

Kesenian ebeg, kesenian tari yang erat kaitannya dengan daerah Banyumas atau juga disebut kesenian Banyumasan. Kesenian ebeg juga sering dinamakan oleh masyarakat sebagai sebutan Jathilan. Menurut yang saya ketahui, kesenian ebeg ini sendiri juga tersebar dan ramai di kabupaten sebelah Bayumas yaitu kabupaten Kebumen. Tarian ebeg ini sendiri menggambarkan prajurit perang sedang menunggang kuda.

            Wujud ideal yang sudah tertanam dalam masyarakat mengenai kesenian ebeg yaitu dengan adanya istilah kesurupan, Salah satu hal yang wajib dalam pentas kesenian ebeg merupakan sesaji dan menyan. Sesaji dalam pementasan ebeg ini digunakan sebagai bentuk persembahan kepada para arwah ataupun penguasa mahluk halus disekitar agar memberkati pementasan ebeg tersebut. Hal yang mungkin membuat penonton menjadi sangat tegang, dimana mereka akan dipertontonkan para pemain ebeg yang memakan benda yang tidak lazim, seperti beling (kaca), memakan ayam yang masih hidup, sampai mengupas kelapa dengan menggigit. Hal itu sudah menjadi suatu yang khas dan sangat identik dengan kesenian ebeg ini.

Untuk aktivitasnya, beberapa bulan yang lalu saya pernah riset dan mewawancarai Pak Lusimin ketua organisasi paguyuban ebeg joko timbul yang berada di desa Bendungan, kabupaten Kebumen. Beliau mengatakan untuk saat ini aktivitas kesenian ebeg sendiri masih ditunda pementasannya dikarenakan adanya pandemi covid 19. Beliau juga mengatakan bahwa untuk saat ini sangat disayangkan sekali generasi muda sudah mulai perlahan kurang antusias terhadap kesenian ebeg itu sendiri, tetapi dalam lingkup masyarakat masih sangat berharap terhadap pemerintah setempat atau dari paguyuban itu sendiri untuk mencari cara bagaimana agar kesenian ebeg ini tetap dilestarikan dan tidak hanya para sesepuh saja yang menonton pentas.

Artefak, tentu kesenian ebeg ini sangat identik dengan anyaman kuda nya atau disebut dengan kuda kepang. Untuk yang terakhir, ada salah satu bagian dari acara pementasan ebeg ini yang sangat dikenal masyarakat yaitu Indhanger, dimana para penonton ikut serta berpartisipasi dalam suatu pertunjukan ebeg bisa disebut secara sukarela. Penonton akan ikut kesurupan bersama pemain ebeg lainnya.


       Source : https://batas.id/

ANTROPOMORFISME DALAM PANCATANTRA, HITOPADESA, HINGGA TANTRI KEDIRI

Pada Selasa, 16 Maret 2021, telah diselenggarakan Diskusi Naskah Nusantara tentang Antropomorfisme dalam Pancatantra, Hitopadesa, Hingga Tantri Kediri. Pembicara dalam acara zoom meeting tersebut adalah Zakariya Pamuji Aminullah, M.A. yang merupakan seorang  peneliti naskah-naskah Jawa Kuno Staf Pengajar UGM.

Antropomorfisme merupakan atribusi karakteristik manusia ke makhluk bukan manusia (https://id.wikipedia.org/wiki/Antropomorfisme). Jadi hal saya pahami yaitu bagaimana ketika karakteristik manusia diterapkan kepada makhluk bukan manusia, sehingga makhluk hidup bukan manusia tersebut seolah-olah dapat berbicara, berfikir dengan akal seperti manusia. Seperti contoh dalam karakter kartun Tom and Jerry dan Donal Bebek. Contoh lainnya adalah hewan, tumbuhan, dan kekuatan alam seperti angin, hujan atau matahari digambarkan sebagai makhluk dengan motivasi manusia, atau bisa juga kemampuan untuk berfikir dan sebaliknya (http://en.wikipedia.org/).

Dari awal zaman, Antropomorfisme sangat erat dan kental dengan namanya carita kuno pada masa itu. Sering kali orang memasukan karakter hewan yang diibaratkan seperti manusia, yang dimana dia bisa berbicara, berfikir. Pada masa awal, banyak antropomorfisme yang di gambarkan dalam sebuah karya sastra dunia yang berasal dari Kashmir, India, yang ditulis pada abad-abad pertama Masehi yaitu Pancatantra. Seperti contoh naskah Kelileh va Demneh yang disalin pada tahun 1429, dari Herat, yang melukiskan seekor serigala yang sedang mencoba menyesatkan singa, hal itu seolah-seolah seperti perilaku manusia yang menyesatkan manusia lain. Pada Webinar Diskusi Naskah Nusantara tersebut, juga disampaikan materi yang mengisahkan Perjalanan Kisah Burung dan Kera dari tradisi sansekerta hingga jawa pertengahan.

Ada juga yang dinamakan Hitopadesa, yang tambah jauh lebih muda dari Pancatantra. Hitopadesa berisi kumpulan dongeng ini mengatur untuk menjelaskan keadaan politik dengan memanfaatkan dongeng binatang. Seperti contoh seorang bijak tua yang menceritakan berbagai kisah interaksi hewan dengan empat pangeran muda (https://hystoryana.blogspot.com/). Banyak pesan moral yang didapat dari Pancatantra dan Hitopadesa itu sendiri.

Karena jurusan yang saya ambil sekarang adalah Film & Televisi, berdasarkan kutipan jurnal isi Surakarta, ada juga Antropomorfisme dalam film. Dari yang saya amati banyak kreator animasi yang menggunakan karakter hewan yang dapat berbicara ataupun befikir, seperti film kartun donal bebek, tom and jerry. Studio yang terkenal yaitu Walt Disney dengan karya-karya nya yang sudah terkenal seperti Zootopia.  Karakter Antropomorfik dipergunakan untuk mempresentasikan keluarbiasaan tokoh utama dalam cerita tersebut, meskipun masih sebatas pada penambahan asesoris pada kostumnya. (https://jurnal.isi-ska.ac.id/index.php/capture/article/view/609/609).