Alternatif PKM Seni Budaya Gresik

Nama Budaya            : Pencak Macan

Dekripsi Budaya       :

Pencak Macan merupakan salah satu kesenian di daerah pesisir Gresik, tepatnya Kelurahan Lumpur. Pencak Macan gabungan dari seni gerak dan seni musik yang awalnya digunakan sebagai media dakwah namun sekarang menjadi arak-arakan pengantin. Pada Pencak Macan berisi mengenai salawat nabi, hadrah, tarian, pesan-pesan untuk pasangan pengantin. Selain itu, Pencak Macan mengisahkan mengenai dinamika kehidupan dengan ciri khas adanya karakter yang berupa hewan dalam bentuk Macan, Monyet, dan Gendruwo yang melambangkan suami, istri,dan angkara murka.

Bidang yang Dipilih  : PKM KC

Dalam bidang tersebut akan membentuk sebuah karya seni baru berupa boneka sebagai souvenir dengan bentuk karakter dalam Pencak Macan. Pembentukan buku dalam bentuk animasi atau buku cerita yang mengisahkan mengenai dinamika kehidupan yang merupakan arti dari Pencak Macan itu sendiri dengan ditambahi awal terbentuknya Pencak Macan. Buku tersebut disajikan dengan menarik dan ringan agar dapat dinikmati oleh segala macam usia dan juga sebagai salah satu bentuk cara penyebaran seni budaya Pencak Macan.

Nama Budaya            : Dandan Mbah

Deskripsi Budaya      :

Budaya Dandan Mbah merupakan kegiatan yang dilakukan masyarakat Desa Jono, Kecamatan Cerme, Kabupaten Gresik. Kegiatan ini dilakukan setiap tahun untuk bergotong royong membersihkan desa dan fasilitas-fasilitas yang ada di Desa Jono. Hal ini diperlakukan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur yang membangun Desa Jono. Sayangnya, kegiatan ini sudah jarang dilakukan oleh masyarakat Desa Jono. Walaupun kegiatan tersebut masih diberlangsungkan namun yang mengikuti dan menerapkan kegiatan tersebut.

Bidang yang Dipilih  : PKM GT

Untuk seni budaya ini, perkembangan perlu untuk dilakukan untuk tetap melestarikan budaya tersebut. Selain itu, budaya tersebut memiliki manfaat yang cukup besar baik dari segi kelestarian fasilitas desa dan juga peningkatan moral serta solidaritas masyarakat. Oleh karena itu, kegiatan ini dapat dikembangkan menjadi lebih baik. Tidak hanya sebagai perawatan desa namun juga sebagai pembangunan desa dimana dengan membangun fasilitas-fasilitas baru yang diperlukan untuk desa. Namun, budaya tersebut dapat digunakan tidak hanya dalam ruang lingkup desa tetapi dapat disebarkan hingga ke kota.

Nama Budaya            : Tarian Gresik, meliputi Tari Pencak Macan, Tari Zavin

Mandilingan, Tari Damar Kurung, Tari Tayung Raci, dan sebagainya.

Deskripsi Budaya      :

            Gresik memiliki banyak tarian pada beberapa daerah di sekitar kota Gresik dan memiliki nilai-nilai tersendiri. Seperti Tari Pencak Macan mengisahkan dinamika kehidupan berumah tangga, Tari Damar Kurung sebagai bentuk aspirasi kebudayaan Damar Kurung yang ada di Gresik, dan masih banyak lagi. Walaupun begitu, tidak semua tarian yang ada di Gresi telah dipatenkan dan diperkenalkan. Diluar sana masih banyak tarian di daerah-daerah kota Gresik yang belum dikenalkan namun menjadi tarian khas dari desa atau daerah tersebut.

Bidang yang Dipilih  : PKM GT

            Untuk tarian-tarian tersebut, terdapat ide untuk membentuk Festival Tari Gresik. Yang dimana pada festival tersebut diadakan setiap tahunnya dengan penampilan tari-tari Gresik yang sudah dipatenkan, pengenalan tarian setiap daerah yang dapat berupa sejarah, makna, dan fungsinya. Dapat juga menjadi tempat bazar dengan stan-stan makanan yang dikhususkan untuk makanan khas setiap daerah tidak hanya dari Gresik. Dan acara terpenting adalah lomba tari yang ada di Gresik dapat berupa tarian yang sudah dipatenkan ataupun tarian baru dari daerah yang ada di Gresik. Acara ini memiliki sekala yang cukup besar dan membutuhkan waktu yang cukup panjang namun hal ini dapat menjadi salah satu ajang sebagai wisata, hiburan, pelestarian, pengenalan budaya, dan secara tidak langsung peningkatan ekonomi di daerah Gresik.

Konsep Mandala

Konsep Mandala merupakan suatu konsep mengenai hakikat nafsu pada manusia. Konsep Mandala umumnya termasuk dalam tahapan, yaitu konsep Mandala papat kiblat lima pancer atau dalam bilangan dikenal sebagai 4+1. Konsep ini menjelaskan 4 nafsu manusia dan 1 sebagai mikrokosmos, yang dimana menjelaskan mengenai hubungan antara diri sendiri(Mikrokosmos), lingkungan dan alam semesta(Makrokosmos), dan Tuhan (Metakosmos). Kemudian, Konsep Ganda Mandala (8+1).

Dalam Konsep Mandala (4+1), empat nafsu manusia dilambangkan dengan arah mata angin utama dalam pola mandala dalam kehidupan.

  • Utara,digambarkan sebagai bumi berwarna hitam. Menjelaskan mengenai sifat manusia ‘aluama atau dikenal sebagai nafsu dan keserakahan.
  • Selatan, digambarkan sebagai api yang berwarna merah. Menjelaskan mengenai sifat manusia, yaitu amarah.
  • Timur, digambarkan sebagai air berwarna putih. Menjelaskan sifat manusia mu’mainah atau merupakan suatu nafsu-nafsu yang bernilai positif.
  • Barat, digambarkan sebagai angin berwarna kuning. Menjelaskan mengenai sifat manusia Sofiah atau hasil nyata antara batin yang memunculkan suatu keinginan serta mendatangkan rasa rindu.

Nafsu-nafsu tersebut berbeda satu sama lain dan harus bisa dikendalikan. Jika kita dapat mengendalikan 4 nafsu tersebut, maka kita akan mendapatkan Nur(Cahaya)/Daya Ilahi.

            Dalam Konsep Ganda Mandala (8+1) atau juga dikenal sebagai Astagina merupakan tingkatan lebih tinggi daripada Konsep Mandala (4+1). Konsep ini menjelaskan mengenai 8 nafsu manusia yang dilambangkan sebagai 8 mata angin dan dewa-dewa sebagai lambang dari nafsu terebut.

  • Utara, dilambangkan oleh Dewa Kuara(Dewa Bintang)
  • Selatan, dilambangkan oleh Dewa Sahyangyama(Dewa Bumi)
  • Timur, dilambangkan oleh Dewa Indra(Dewa Langit)
  • Barat, dilambangkan oleh Dewa Baruna(Dewa Air)
  • Barat Laut, dilambangkan oleh Dewa Anila(Dewa Angin)
  • Timur Laut, dilambangkan oleh Dewa Chandra(Dewa Rembulan)
  • Tenggara, dilambangkan oleh  Dewa Agni(Dewa Api)
  • Barat Daya, dilambangkan oleh Dewa Surya(Dewa Matahari)

Setelah dapat mengendalikan hingga 8 nafsu tersebut maka kita dapat memunculkan Nur/Daya Ilahi yang lebih terang. Menurut sumber saya, Nur tersebut berupa Wibowo, Pangaribowo, dan Ripabowo atau kasempurnaan sejati. Orang Jawa yang beranggapan urip mung mampir ngombe umumnya bertujuan mendapatkan kasempurnaan sejati untuk kehidupan selanjutnya. Karena kasempuranaan sejati akan tertanam dalam jiwa hingga kehidupan yang akan datang. Dalam pengendalian terdapat garis sebagai arahan yang dilambangkan sebagai tujuan akhir. Garis masuk untuk diri kita sendiri maka konsep tersebut dikenal sebagai Astagina dan apabila garis mengarah luar untuk orang lain disebut Hastabrata/Kepemimpinan Sejati.

            Dalam paparan diatas terdapat beberapa hal yang dapat dimanfaat dalam bidang film, yaitu teori, penjelasan, kisah, dan pengamalannya. Dalam bidang film terdapat suatu ide atau gagasan cerita, maka kisah dimana orang Jawa yang bertujuan untuk kasempurnaan sejati dan penjelasan dapat menjadi ide cerita. Teori-teori yang diberikan menjadi ilmu untuk pembentukan karakter dalam sebuah film dan juga perlambangan dapat digunakan dalam penentuan atmosfer film seperti properti atau cahaya. Contohnya, rasa marah dan benci yang merupakan nafsu amarah dapat digunakan properti yang merah atau terang seperti penggambaran nafsu berupa api merah. Dan yang terakhir adalah pengamalannya, dalam bidang film, kita pastinya akan berkerja sama dengan orang lain. Kita tidak dapat bekerja secara individu atau perorangan. Oleh karena itu, pengamalan pengendalian nafsu akan menjadi poin penting dalam meningkatkan rasa solidaritas dan kerja sama sebuah tim. Mengembangkan ikatan yang lebih luas dan dapat saling dipercaya.