GONG AGENG DAN GONG WANING PERBEDAAN MAKNA PADA MASYARAKAT PEMILIK

BAB II

PENGERTIAN GONG 

2.1 PENGERTIAN GONG AGENG

Gong Ageng adalah salah satu ricikan gamelan Jawa yang bahan pembuatannya dari logam baik perunggu maupun besi yang cara penempatannya digantung secara vertical pada sebuah gayor, Gong Ageng termasuk dalam ricikan penanda atau sebagai pemberi rasa seleh berat pada setiap akhir kalimat lagu dalam sebuah gendhing.

Sejarah Gong Ageng

Gong Ageng merupakan perangkat gamelan Jawa yang mempunyai karakter suara rendah dan bergema, sejarah Gong Ageng diciptakan dan dipengaruhi dari alat musik nekara yang dibawa oleh suku Dongsong dari Vietnam yang semakin lama semakin berkembang sampai ke bentuk dan susunan seperti perangkat gamelan pada saat ini.

Alat Musik Gong Ageng

Gong Ageng tidak bisa dimainkan sendiri permainan Gong Ageng harus mengikuti perangkat gamelan yang lainnya, semua permainan perangkat sudah ter-struktur dan mempunyai harmoni. Setiap perangkat mempunyai tugas masing-masing.

Untuk masyarakat Jawa dan juga di suatu daerah lainnya sampai beberapa tahun yang lalu, pada kalangan dan atau daerah tertentu gong memiliki arti dan kedudukan yang cukup penting. Orang Jawa menganggap belum sempurna atau belum sah ketika mereka menyelenggarakan suatu perhelatan, hajatan, atau pesta tanpa menggantung gong, artinya merayakan dengan tanpa melibatkan (kesenian yang menggunakan) gamelan. Gong juga merupakan ricikan yang terpenting dalam perangkat gamelan. Sebuah gong sering diberi nama dan sebutan Kyai atau Nyai. Nama seperangkat gamelan sering juga menuruti nama gongnya.

Cara Memainkan Gong Ageng

Gong Ageng dimaikan dengan cara dipukul menggunakan tabuh yang ujung atasnya disesuaikan bentuknya dan dibuat empuk agar pada saat dipukulkan tidak menimbulkan suara yang nyaring saat tabuh berbenturan dengan pencu pada gong.

Pertunjukan Gong Ageng

Gong Ageng tidak dipertunjukan sendiri tetapi harus dengan seperangkat gamelan, pertunjukan gamelan mempunyai ban yak fungsi yaitu untuk pertunjukan klenengan, pendukung pertunjukan wayang kulit dan pendukung pertunjukan tari. Setiap jenis pertunjukan mempunyai perbedaan, perbedaan yang sangat mencolok adalah pada permainan kendhang karena menyesuaikan fungsi suara kendhang sebagai pengatur irama atau sebagai pemberi tekanan pada gerakan tarian atau gerakan wayang.

Perkembangan Gong Ageng

Gong Ageng masih tetap dipakai dalam perangkat gamelan Jawa sampai saat ini, Sisa-sisa yang memberi tempat yang penting pada gong oleh masyarakat Jawa masih dapat dirasakan sampai sekarang, seperti contoh hampir selalu dilakukannya pemukulan gong oleh orang atau pejabat yang paling penting pada acara atau upacara yang dilakukan oleh berbagai lembaga atau instansi lainnya di Indonesia khususnya di Jawa. Demikian pula orang Jawa juga menyebut suatu bagian dari rangkaian acara atau kegiatan yang dianggap paling penting. Biasanya acara tersebut diberi kesempatan untuk tampil di bagian terakhir, sebagai penutup atau klimaks dari rangkaian keseluruhan acara pada suatu hajatan. Acara terakhir dan yang dianggap paling penting tersebut oleh masyarakat biasa disebut sebagai gong.

 

2.2 PENGERTIAN GONG WANING

Gong Waning adalah salah satu alat musik tradisional masyarakat Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Alat musik satu ini merupakan alat musik yang dimainkan dengan cara ditabuh (dipukul). Gong Waning terdiri dari beberapa jenis instrument seperti waning (gendang), gong dan peli anak (saur). Waning sendiri merupakan alat musik sejenis gendang yang terbuat dari kayu kelapa dan hanya memiliki satu membran. Alat musik ini biasanya dimainkan sebagai pengiring tarian baik dalam acara adat maupun pertunjukan tari.

Sejarah Gong Waning

Gong Waning ini merupakan salah satu alat musik trasional yang keberadaannya sudah cukup lama di kalangan masyarakat Sikka, NTT. Menurut beberapa sumber sejarah yang ada, alat musik ini sudah ada sekitar tahun 1920-an. Adanya Gong Waning ini merupakan dampak dari masuknya pedangan dari Cina, Jawa, dan Bugis yang pada saat itu membawa alat musik gong untuk ditukar dengan barang kerajinan atau hasil bumi masyarakat di sana.

 

Sebelum adanya gong di daerah Sikka, masyarakat di sana terlebih dahulu menggunakan alat musik lettor. Lettor sendiri merupakan alat musik yang terbuat dari kayu berbentuk bilahan yang disusun seperti gambang pada alat musik Jawa. Namun setelah mengenal alat musik gong, mereka mengganti lettor dengan alat musik tersebut, hal ini dilakukan karena suara yang dihasilkan mirip dengan lettor. Sejak saat itulah masyarakat di sana menggunakan gong sebagai pendamping alat musik waning dan menyebutnya dengan Gong Waning. Alat musik ini dulunya digunakan masyarakat untuk mengiringi prosesi dan tarian pada upacara adat masyarakat Sikka.

Alat Musik Gong Waning

Alat musik Gong Waning ini terdiri dari tiga jenis instrument utama, yaitu waning, gong dan peli anak/saur. Waning sendiri merupakan alat musik sejenis gendang yang terbuat dari batang kelapa dan kulit sapi atau kambing yang sudah dikeringkan. Gendang yang satu ini memiliki bentuk yang berbeda dengan gendang pada umumnya dan hanya memiliki satu membran. Waning yang digunakan biasanya terdiri dari dua jenis, yaitu gendang besar dan dodor (gendang kecil).

 

Pada perangkat gong yang digunakan memiliki nada yang berbeda-beda, dari nada rendah sampai nada tinggi. Gong tersebut diantaranya gong Ina wa’a, gong Ina depo, gong lepe, gong Higo-hagong, dan gong Udong. Untuk gong higo-hagong biasanya terdiri dari dua gong yang berbeda namun dimainkan secara bersamaan, apabila salah satunya tidak ada maka musik yang dihasilkan akan terdengar rancu. Sedangkan untuk peli anak atau saur, merupakan potongan bambu sepanjang kurang lebih 1 meter. Peli anak ini biasanya digunakan untuk menstabilkan irama pukulan Gong Waning.

Cara Memainkan Gong Waning

Seperti halnya dengan alat musik tradisional lainnya, Gong Waning ini juga dimainkan secara bersamaan dan diselaraskan hingga menghasilkan satu irama yang pas enak didengar. Pada dasarnya musik Gong Waning ini hanya digunakan untuk mengiringi pertunjukan tari saja, dan tidak bisa ditampilkan secara orkestra seperti gamelan. Sehingga irama yang dimainkan juga disesuaikan dengan gerakan tari. Irama pada permainan Gong Waning terdiri dari irama todu, irama bedu blabat, irama glebak, dan irama lake. Setiap irama bisanya mewakili satu tempo yang berbeda beda, dari yang paling cepat sampai yang paling lambat.

Pertunjukan Gong Waning

Pada awalnya Gong Waning ini ditampilkan oleh masyarakat di sana sebagai pengiring tarian rakyat pada upacara atau ritual adat. Untuk mengiringi tarian tersebut biasanya irama yang dimainkan lebih bebas, karena merupakan tarian rakyat sehingga gerak tarian cenderung mengikuti irama musik Gong Waning. Namun hal ini terlihat berbeda apabila mengiringi tari pertunjukan. Dalam tari pertunjukan biasanya  Irama yang dimainkan justru mengikuti gerakan tari dan harus diselaraskan. Karena tari pertunjukan lebih mengutamakan keindahan gerak yang dipadukan dengan musik pengiring, sehingga keselarasan tersebut harus diperhatikan.

Perkembangan Gong Waning

Dalam perkembangannya, Gong Waning ini masih terus dilestarikan dan dijaga keberadaannya. Salah satu bentuk pelestarian tersebut terlihat dari penggunaan atau fungsinya. Kini Gong Waning tidak hanya digunakan sebagai pengiring upacara adat saja, namun juga sering ditampilkan sebagai pengiring seni tari di berbagai acara seperti festival budaya maupun pertunjukan seni daerah. Selain itu berbagai kreasi dan variasi juga sering dilakukan, namun tetap disesuaikan dengan gerakan tari ditampilkan.

 

3.1 KESIMPULAN

Pada setiap daerah mempunyai latar belakang budaya tersendiri dalam masyarakat tentang memaknai sesuatu, dan pengaruh itu sudah dibawa sejak nenek moyang mereka. Itu menunjukan bahwa setiap daerah mempunyai cara tersendiri dalam berinteraksi dengan sekitar dan mempunyai kepercayaan masing-masing. Dapat disimpulkan bahwa perbedaan dalam kesenian itu dihasilkan dari fungsi, kepercayaan dan kreatifitas dalam sebuah kelompok masyarakat tersebut.